Konon, yang namanya wanita pasti doyan belanja. Sampai-sampai ada wanita yang berbelanja tanpa perhitungan sama sekali, sering membeli barang-barang yang sebenarnya tak perlu. Kadang malah sampai ada 2-3 barang yang sama. Nah, wanita yang demikian. “Biasanya sampai di rumah, mereka baru sadar kalau barang tersebut tak dibutuhkan.
Tapi jangan salah lho, yang bisa “mabuk” belanja bukan cuma wanita. Padahal kalau yang namanya belanja, pria juga bisa “mabuk”. “Perilakunya sama saja dengan wanita yang ‘mabuk’ belanja. Pokoknya, mereka yang tak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk berbelanja. Bisa untuk keperluan dirinya sendiri, bisa juga asyik berbelanja untuk keperluan orang lain. Malah ada bapak-bapak yang “mabuk” belanja tapi yang dibeli lebih banyak keperluan anak-istrinya.
Tapi ada yang menganggap oke-oke saja meskipun 50 persen dari pendapatannya digunakan untuk belanja.
Nah, bila pasangannya tak merasa keberatan dan dirasa tak mengganggu keuangan keluarga, tentunya tak masalah. Tentunya kalau sudah sampai pada taraf yang ekstrim, perselisihan biasanya seringkali tak bisa dihindari lagi.
Justru yang dibutuhkan adalah dukungan dari pasangan untuk menyadarkan si shopaholic, karena ia sering tak sadar dengan apa yang dilakukannya dan tak bisa menguasai diri (uncontrolled) . Apalagi orang yang sedang ‘mabuk’, kan, tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Pria atau wanita yang seperti itu biasanya kalau sudah disodorkan data, si shopaholic tak bisa berkelit lagi, malah dia akan terhenyak, tak mengira bahwa dirinya telah berbelanja sebanyak itu.” Antara lain dengan ditemani saat wanita atau pria yang “mabuk” belanja itu pergi berbelanja agar ada yang mengingatkan bila ia berniat belanja diluar kebutuhan. Yang bisa dilakukan adalah melibatkan pihak ketiga. Yang pasti untuk membantu si shopaholic dibutuhkan kesabaran dari pasangannya dan tak bosan-bosan melatihnya berhemat. Biasanya ini terjadi pada istri yang bekerja. Jangan lupa, suami juga bisa mengatakan hal yang sama. Meskipun ia kepala keluarga, ia bisa saja mengatakan merasa berhak juga karena itu uangnya juga. Akibatnya, tak ada uang bersama untuk rumah tangga. Masing-masing merasa tak perlu memberikan kontribusinya untuk keluarga. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan belanja dan anak-anak?
Ada juga yang membagi tugas, misalnya, cicilan rumah dan mobil dari gaji suami, penghasilan istri untuk uang sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Dengan demikian, masing-masing bisa menahan diri untuk tak “mabuk” berbelanja.
3051


Join Facebook Group
Follow Twitter
Subsribe to RSS Feed