Ecopolis, Hunian Hemat Ramah Lingkungan – Ibu Kita Kartini | Majalah Tentang Wanita Indonesia

Wednesday, 30 November 2011

Ecopolis, Hunian Hemat Ramah Lingkungan

image
hits 5892

Masalah lingkungan belakangan semakin serius. Salah satu penyebabnya karena banyak pengembang hunian yang mengabaikan aspek pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, mulai 2012 ini Ciputra Group berencana mengembangkan konsep Ecopolis. Konsep ini menggabungkan konsep property modern tanpa meninggalkan unsur-unsur pelestarian lingkungan.

Setidaknya , pengembang ini membangun kluster Ecopolis dalam lahan seluas 100 hektar , berupa pembangunan rumah yang ramah lingkungan dengan tetap mempertahankan unsur-unsur daya dukung lingkungan seperti pohon-pohon perindang, sumur biopori, danau, hingga pengolahan limbah organik maupun nonorganik.

Menurut Budiarsa Sastrawinata, Direktur Utama PT Ciputra Residence,untuk proyek Ecopolis 2012 , Ciputra akan menyempurnakan konsep Ecopolis tersebut dalam wujud interior hunian seperti : jendela, lubang angin, hingga pencahayaan. .Rumah dengan desain khusus itu, dari sisi harga lebih mahal 20 persen dbanding rumah biasa. Namun dalam jangka panjang, biaya pemeliharaan justru menjadi jauh lebih murah. ” Dari sisi pencahayaan saja lebih murah, karena konsep ini mengandalkan pencahaan matahari, yang jelas tidak bayar. ” ujar Budi.

Pengembangan konsep Ecopolis ini , belakangan semakin banyak peminatnya seiring dengan maraknya isue green property. Diluar negeri, para pengembang mulai menyadari bahwa pembangunan hunian tak boleh lagi mengabaikan aspek pelestarian lingkungan. Sebab, penduduk dunia juga mulai merasakan dampak kerusakan lingkungan yang semakin parah. Salah satunya adalah merasakan udara yang semakin panas, sehingga FIABCI pun mengkampanyekan isue green property. “ Para pengembang dunia juga mulai khawatir terjadinya bencana yang semakin besar, akibat pembangunan hunian yang mengabaikan unsur lingkungan. “ ujar Budi.

Di Indonesia, Ciputra mulai menerapkan konsep green property ini dari Jakarta. Namun, secara perlahan , konsep green property serta pembangunan Ecopolis ini akan dikembangkan juga ke kota-kota besdar lain di Indonesia. Sebab, dari sisi kerusakan lingkungan, Jakarta termasuk salah satu kota yang tingkat kerusakan lingkungan sangat tinggi, akibat banyaknya pabrik, kendaraan bermotor serta banyaknya pembangunan hunian yang tak memperhatikan unsur pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, lewat konsep Ecopolis ini, Ciputra ingin menjadi pelopor pembangunan hunian yang ramah lingkungan.
Sebagai Ibu Kota negara yang selalu mengkampanyekan kelestarian lingkungan, sampai saat ini Jakarta belum mempunyai gedung hijau. Oleh karena itu, penerapan bangunan yang ramah lingkungan ini akhirnya bukan sekadar menjadi kebutuhan, tetapi sudah menjadi tuntutan. Bahkan, akan lebih baik lagi, jika Pemda DKI Jakarta membuat peraturan bahwa setiap pembangunan property baik berupa gedung perkantoran, ruko, maupun hunian harus mengacu pada konsep Ecopolis.
Dalam menerapkan konsep Ecopolisini, Ciputra mengadopsi konsep Ecopolis dari Singapura karena di Indonesia, pemerintah belum mempunyai konsep standar, bangunan yang ramah lingkungan. Konsep yang dibangun dengan label Ciputra World,tersebut dibangun sebagai wujud tanggung jawab pengembang terhadap pelestarian lingkungan.

Dalam setiap properti yang dibangun, Ciputra Group mulai gencar mempromosikan prinsip bangunan hijau setiap properti yang dikembangkan. Konsep hijau fokus untuk penghematan energi guna menekan biaya perawatan gedung serta emisi buang karbon. Bahkan, sekarang semua gedung bertingkat yang dikembangkan Ciputra sudah menerapkan efisiensi energi, khususnya untuk pendingin ruangan. Sebagai upaya mengurangi efek negatif panas matahari, Ciputra memanfaatkan double glass pada gedung bertingkat guna mengurangi efek negatif panas matahari, sehingga kebutuhan energi untuk pendinginan bisa ditekan.

Selain itu, Ciputra Group menerapkan pengelolaan air buangan untuk dimanfaatkan kembali. Seluruh air buangan maupun air hujan didaur ulang dengan teknologi agar bermanfaat. Sedangkan gas buang dari gedung dipakai untuk pembangkit listrik suplai energi gedung.

Budi menjelaskan, kebutuhan energi tertinggi sebuah gedung dikonsumsi untuk pendingin ruangan dibandingkan pencahayaan. Oleh karena itu, perusahaan memfokuskan pengembangan hijau untuk pengurangan konsumsi energi. Penggunaan double glass pada proyek Ciputra diperkirakan menekan konsumsi energi hingga 35% dibandingkan gedung biasanya. Penggunaan double glass dan pengurangan bukaan gedung sebelah barat bisa menekan konsumsi energi hingga 35% untuk pendinginan. Kebutuhan dana pengembangan gedung ramah lingkunan ini lebih besar dibandingkan dengan pembangunan bangunan biasa.

Selain pada pembangunan gedung bertingkat, Ciputra Group juga mengadopsi fitur bangunan hijau pada sejumlah proyek rumah tapak .Perumahan hijau bukan berarti cukup menyediakan ruang terbuka hijau dari areal pengembangan, namun beberapa rumah tapak yang dikembangkan Ciputra Group, menurut dia, didesain dengan banyak jendela maupun bukaan untuk mengoptimalkan sirkulasi udara. Sedangkan dampak negatif panas surya memasuki rumah diminimalisasi dengan mengembangkan taman hijau pada bagian barat setiap rumah.

Sebagai upaya menghemat energi listrik, untuk penerangan Ciputra Group juga memanfaatkan solar energy sebagai sumber energi lampu jalan dan taman di beberapa proyek perusahaan. Pemanfaaatan solar energi untuk menghemat penggunaan energi listrik dan kemudian bisa mengurangi pemanas-an global. Green property Ciputra Group berusaha mengurangi penggunaan energi dangan memanfaatkan teknologi. Sebab, penggunaan energi secara masif bisa mengakibatkan gas buang karbon besar. Selain itu, juga memasang shower head . Selain terkesan lebih elegan, penggunaan shower dalam setiap kamar mandi terbukti lebih menghemat dalam konsumsi air, karena tak banyak air yang terbuang sia-sia. ( sulistyawan )

sulist - Ibukitakartini.com
0 Komentar | Share:
1 votes Cast your vote now!

<

Comment to this article

Your Name
Email Address
URL Address
your Comments